Jakarta — Tren kajian Islam secara daring atau online semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat kini lebih mudah mengakses ceramah, kajian kitab, hingga tanya jawab fiqih melalui berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan podcast.
Namun di balik kemudahan tersebut, para ulama dan akademisi mengingatkan agar umat Islam tetap berhati-hati dalam memilih sumber ilmu. Pasalnya, tidak semua konten keislaman yang beredar memiliki landasan keilmuan yang kuat. Banyak materi yang dipotong, disederhanakan berlebihan, hingga memunculkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Belajar agama itu mulia, tapi harus tetap memakai prinsip tabayyun. Jangan langsung percaya hanya karena video itu viral. Harus dilihat siapa yang menyampaikan dan bagaimana sanad ilmunya,” ujar salah seorang pengajar dalam sebuah kajian publik yang berlangsung pekan ini.
Dalam pembahasan tersebut, disebutkan bahwa peningkatan kajian online membawa dampak positif, terutama bagi masyarakat yang sulit menjangkau majelis ilmu secara langsung. Kajian daring membantu memperluas akses pengetahuan, khususnya bagi pekerja, ibu rumah tangga, hingga pelajar yang memiliki keterbatasan waktu.
Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap menyertai pembelajaran online dengan bimbingan guru yang jelas. Hal ini penting untuk menghindari pemahaman yang keliru, terutama dalam isu-isu sensitif seperti hukum ibadah, perbedaan madzhab, hingga masalah sosial yang sering menimbulkan perdebatan.
Selain itu, ulama juga mengajak masyarakat agar menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan. Konten keislaman seharusnya mendorong persatuan umat, bukan memprovokasi perpecahan dan saling menyalahkan.
Para pengamat menyebutkan, ke depan tren kajian Islam online diperkirakan terus berkembang, terutama dengan hadirnya fitur live streaming dan komunitas digital. Tantangan terbesar adalah menjaga kualitas isi, kedalaman ilmu, serta etika dalam berdakwah.
Menutup diskusi, para ulama mengingatkan bahwa ilmu agama bukan sekadar konsumsi cepat, melainkan membutuhkan proses, adab, dan kesungguhan. Dengan begitu, ilmu yang dipelajari dapat membawa manfaat dan menambah ketakwaan.













LEAVE A REPLY